Ah ... dinda

Ah ... dinda


bukan … bukan senyummu yang membuatku membayangkan berlari-lari di padang savana
memetik bunga-bunga liar
bernyanyi-nyanyi kecil
bersiul-siul gembira
dan membasuh mukaku di dinginnya air sungai yang mengalir dari pegunungan

bukan … bukan tawamu yang membuatku membayangkan menyusuri Parangtritis
mengumpulkan kerang-kerang kecil
menulis kata cinta di pasir
memandang matahari tenggelam
dan membasuh mukaku di hangatnya air laut pantai selatan

bukan ... bukan matamu yang membuatku membayangkan mendaki Tangkuban Perahu
menghirup udara segar
membeli seikat edelweis
mencicipi stoberi yang asam-asam manis
dan membasuh mukaku di segarnya air pancuran yang mengalir tak beratur

Ah ... dinda
izinkan aku
izinkan aku
izinkan aku
merasakan getaran ini walau tanpa alasan
walau engkau enggan
walau engkau tak percaya

Ah ... dinda
engkau tertawa geli tatkala aku berkata, ”Dinda, aku jatuh cinta!”
engkau tersenyum aneh tatkala aku berkata, ”Dinda, aku jatuh cinta!”
engkau hanya berkata dengan suara sengau, ”Kok, bisa?”

Ah ... dinda
ingin aku berkuda sembrani melintas awang-awang
menebar senyum pada burung-burung yang menatapku janggal
aku tentu tak peduli, dinda
aku ingin tersenyum pada awan-awan yang membentuk mozaik dirimu
tapi, angin tak bersahabat, dinda
mozaikmu hancur menjadi awan yang berbentuk aneh

Ah ... dinda
aku teringat lagi saat kau tertawa geli ketika aku berkata, ”Dinda, aku jatuh cinta!”
aku tertawa geli juga, dinda
ketika kuingat lagi kau tersenyum aneh dan berkata sengau, ”Kok, bisa?”

Banyuasin, 6 November 2009

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama