Wanita di Seberang Jalan

Wanita di Seberang Jalan


setiap pagi wanita di seberang jalan itu duduk dengan anggun di teras rumah panggungnya
ia tak peduli dengan kokok ayam jantan
atau kicau murai di dahan pohon rambutan
ia hanya diam dengan anggun
ia tak peduli dengan lebah-lebah yang menghisap nektar bunga mawar ungunya
atau lincahnya kupu-kupu yang terbang rendah
ia hanya diam dengan anggun

walau hujan, wanita di seberang jalan itu tetap duduk dengan anggun di teras rumah panggungnya
segelas teh selalu ada di atas meja jatinya
ia minum dengan gerakan yang teratur
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu memejamkan matanya dengan perlahan
rambutnya tertiup angin pagi dan bergerak dengan anggun
di telinganya terselip bunga melati
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu berdiri dengan perlahan
berjalan ke arah tangga rumahnya dengan anggun
menatap ke arah jalan dengan anggun
entah apa yang dicarinya
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu tak pernah berbicara denganku
tapi, pagi itu tiba-tiba kepalanya menoleh dengan anggun
ia berkata padaku dari kejauhan tanpa bersuara
mulutnya yang anggun bergerak lambat:
”Ja-ngan-u-sil!”

aku tertawa senang
bertahun-tahun aku mengenalnya
tak pernah sekalipun ia berbicara denganku
kecuali pagi ini
walau tanpa bersuara, tapi ia telah berkata dari kejauhan
”Ja-ngan-u-sil!”


Banyuasin, 7 November 2009

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama