Kubayangkan purnama di Jogja akan selalu indah
bintang terang benderang bagai matahari
angin bertiup sepoi-sepoi
suara jangkrik terdengar sayup-sayup
Kubayangkan purnama di Jogja adalah purnama terindah di negeriku
anak-anak bermain di halaman rumah
gadis-gadis bercengkrama di teras rumah
jejaka tertawa-tawa senang melihat para gadis bersenda gurau
Kubayangkan purnama di Jogja adalah saat bagiku mengungkapkan rasa kasihku
mandi bersih di sore hari
berkeramas
berbaju yang disetrika rapi
berminyak wangi merek inoui
berminyak rambut merek tancho warna hijau
bersepatu yang dibersihkan dengan kain basah
sungguh sempurna!
Kubayangkan purnama di Jogja akan membahagiakanku
kudatangi rumah kekasihku
berbasa-basi
cerita sana-sini
sampailah pada saat kasihku berkata, “Mas, kita putus saja!”
Kubayangkan purnama di Jogja tiba-tiba tertutup awan tebal
hujan turun lebat
petir sambar-menyambar
pohon tumbang di mana-mana
jalan-jaan tergenang banjir
Jogja banjir
rumah kekasihku banjir
terbawa arus
masuk Kali Code
terbawa hingga ke laut
“Mas, kita putus!” tiba-tiba suaramu meninggi
Kubayangkan aku bertanya dengan sengit, “Atas dasar apa kita putus?”
tapi, aku tak bertanya
Jogja mengajarkanku untuk diam
walau aku harus sakit
walau aku harus dikhianati
Kubayangkan purnama di Jogja dari tempatku saat ini
dingin
sedikit ngilu
tapi, tak apalah!!!
Banyuasin, 18 Januari 2010
bintang terang benderang bagai matahari
angin bertiup sepoi-sepoi
suara jangkrik terdengar sayup-sayup
Kubayangkan purnama di Jogja adalah purnama terindah di negeriku
anak-anak bermain di halaman rumah
gadis-gadis bercengkrama di teras rumah
jejaka tertawa-tawa senang melihat para gadis bersenda gurau
Kubayangkan purnama di Jogja adalah saat bagiku mengungkapkan rasa kasihku
mandi bersih di sore hari
berkeramas
berbaju yang disetrika rapi
berminyak wangi merek inoui
berminyak rambut merek tancho warna hijau
bersepatu yang dibersihkan dengan kain basah
sungguh sempurna!
Kubayangkan purnama di Jogja akan membahagiakanku
kudatangi rumah kekasihku
berbasa-basi
cerita sana-sini
sampailah pada saat kasihku berkata, “Mas, kita putus saja!”
Kubayangkan purnama di Jogja tiba-tiba tertutup awan tebal
hujan turun lebat
petir sambar-menyambar
pohon tumbang di mana-mana
jalan-jaan tergenang banjir
Jogja banjir
rumah kekasihku banjir
terbawa arus
masuk Kali Code
terbawa hingga ke laut
“Mas, kita putus!” tiba-tiba suaramu meninggi
Kubayangkan aku bertanya dengan sengit, “Atas dasar apa kita putus?”
tapi, aku tak bertanya
Jogja mengajarkanku untuk diam
walau aku harus sakit
walau aku harus dikhianati
Kubayangkan purnama di Jogja dari tempatku saat ini
dingin
sedikit ngilu
tapi, tak apalah!!!
Banyuasin, 18 Januari 2010
Posting Komentar