ah, ranah minang jadi tak elok

ah, ranah minang jadi tak elok


air mata tumpah lagi di bumi pertiwi
mata-mata telah membengkak
napas tinggal satu-satu
tak ada lagi yang dapat dikatakan
wajah-wajah kuyu
ah,
mengapa bencana ini harus terjadi lagi
ah,
jalan-jalan telah basah oleh air mata
jalan terseok-seok
ah,
serunai tak lagi terdengar merdu
pilu dan tajam
alunannya mengiris sukma
turun lagi air mata
ah,
ranah minang jadi tak elok
erangan menjadi nyanyian kepiluan
tangisan membahana dari kampung ke kampung
ah,
surau tak lagi riuh dengan bacaan suci
gelap dan dingin


Irwan Pachrozi
Banyuasin, 1 Oktober 2009


Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama